Bonus harian di Keluaran HK 2020 – 2021.

TIMESINDONESIA, MOJOKERTO – Mengkaji pelajaran keluarga bahagia berbasis kitab  Mamba’ussa’adah , Nyai Hj. Farida Ulvi Na’imah MHI, salah satu dosen Prodi Hukum Keluarga  Agama islam Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, memasukkan Kelas Intensif Ramadhan 1442 H 20 Hari Bergandengan 20 Ulama Perempuan Nusantara.

“Kegiatan ini diinisiasi oleh 3 LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) non pemerintah dengan konsen pada isu-isu mengenai perempuan. Ketiga LSM itu adalah Rahima, Fahmina, & Mubadalah, ” ujar Nyai Ulvi.

Kelas intensif ini dimulai sejak 16 April hingga 8 Mei 2021 yang dilaksanakan selama Ramadhan 1442 H setiap memukul 13. 00 WIB sampai dengan selesai.

Lebih lanjut Nyai Ulvi menjelaskan kalau LSM tersebut memiliki program pengkaderan yang dikhususkan untuk menyemai kader-kader ulama perempuan.  

“Mereka memiliki rencana pengkaderan, di Rahima tersebut namanya PUP (Pengkaderan Ustazah Perempuan) dan di Fahmina namanya DKUP (Dauroh Bakal Ulama Perempuan), ” introduksi dia.

Para LSM   tersebut sudah bekerja persis dengan lembaga atau sistem masyarakat seperti Nahdlatul Ulama (NU), Jam’iyyah Pengasuh Pesantren Putri dan Mubalighoh (JP3M), serta berbagai pusat studi gender di kampus-kampus.

Disamping itu, Nyai Ulvi memasukkan bahwa dirinya telah mendaftarkan pelatihan dari DKUP selama satu minggu. “Saya tunggal kemarin mengikuti DKUP, lantaran Dauroh itu kemudian kita selama satu minggu melaksanakan pelatihan, 5 hari secara daring dan 2 keadaan secara  offline   di Semarang pada 3-4 April lalu, ” ungkapnya.

JP3M merekomendasikan Nyai Ulvi untuk tergabung di kelas intensif 20 Keadaan Bersama 20 Ulama Rani Nusantara ini.  

“Yang merekomendasi saya adalah JP3M yang isinya bu nyai bu nyai. Mungkin pertimbangannya dari kontribusi seperti menghasilkan tulisan-tulisan seputar perempuan beserta bahasan tafsir sehingga beta direkomendasi untuk ikut, ” kata Nyai Ulvi.

Analisis yang mem- booming -kan ulama perempuan ini perdana dilaksanakan pada Ramadhan 1442 H. Tahun sebelumnya dikaji sendiri sebab pengarangnya sendiri melalui channel YouTube-nya.    

“Kegiatan yang mem- booming -kan dan menghadirkan ulama perempuan diawali di dalam tahun 2017 dengan adanya Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), pertamakali ada pada Cirebon, ” ujar tempat.

KUPI ini bisa dibilang induknya, diikuti oleh LSM yang cakupannya Nasional. Fahmina, Rahima, Mubadalah pun terlibat dengan KUPI dan rata-rata pemateri dari KUPI sudah menduduki tempat-tempat seperti Komnas Perempuan, legislatif, dan telah mencapai jaringan luar negeri.  

Adapun latar pungkur dari kajian keluarga baik berbasis kitab  Mamba’ussa’adah   adalah pereka kitab tersebut ingin mengulas karyanya dengan mengadakan kupasan yang melibatkan ulama perempuan di Nusantara.  

“Kiai Faqihuddin Abdul Qodir The Founder of Mubadalah yang juga pengarang  Qiro’ah Mubadalah , beliau punya keinginan untuk mengulas salah satu karyanya yang berjudul  Mamba’ussa’adah   yang isinya berkaitan dengan relasi suami dan istri, ” papar dia.

Di dalam bukunya, Kiai Faqihuddin mengajarkan bagaimana kita memahami bagian yang bisa kita mubadalah, adanya bentuk kesalingan jarang suami dan istri. Tidak hanya ayat tertentu tersebut berlaku untuk kewajiban suami atau kewajiban istri selalu. Intinya perlu ada pertalian yang baik dalam sendi tangga.

“Saya terjadwal 1 Mei 2021 mendatang dengan pembahasan ‘khitan bagi pria bukan untuk perempuan’. Maka kita mengkaji isi wacana dan kita tinggal mengantarkan. Yang terpenting makna-makna serta ajaran signifikan dari wacana tersebut bisa tersampaikan secara baik, ”   kata pendahuluan dia.

Menurut Nyai Ulvi, pengertian ulama perempuan tersebut tidak selalu berjenis kelamin perempuan. Tetapi laki-laki dengan konsen dan mendukung kajian tentang isu seputar rani juga termasuk kategori ulama perempuan.

Sebagai salah satu ulama perempuan yang turut eksis dalam persoalan serta isu perempuan, Nyai Ulvi sampaikan tanggapan dan tumpuan dari adanya kegiatan ini.

“Karena kajian ini menetapkan isu perempuan, saya jadi perempuan dan mengalami pula pengalaman sosial dan biologis yang tidak dialami laki-laki, merasa seperti ada kesibukan untuk paham terhadap hal-hal terkait keadilan dan paritas, jelas dia.

Dia mengutarakan, mungkin kalau sebatas disuarakan perempuan, seolah terdengar memeriksa pembelaan semata. Tetapi kala disebarluaskan, ini layak didengar oleh laki-laki.

“Harapan hamba, mereka dapat memahami rani dengan memperhatikan pengalaman sosial dan biologis. Konstruk dinomor duakan dan keadaan biologis seperti nyeri pada arah tubuh tertentu saat menjelang  haid , situasi seperti itu perlu diperhatikan, ” pungkas Kaprodi HKI Fakultas Syariah  Islam Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto  ini. (*)